Friday, May 23, 2008

BBM is the way of life

Harga BBM mau naik ‘up to’ 30%!! Ngga ada yang ngga kebat-kebit dengar kabar tersebut. Harga BBM naik berarti harga sembako juga naik. Harga sembako naik berarti harga barang-barang yang laen juga naik. Sebagian besar orang mikirnya begitu, termasuk gua. Makanya istilah presiden: “Kebijakan yang tidak populer”. Di tengah bangsa yang doyan ‘sebisa mungkin gratisan’ (ingat tingkat “carding” dan “hacking” dan “piracy” di negara kita), kebijakan apapun yang ada hubungannya dengan naik harga pasti ngga akan jadi ‘populer’.
Tapi dari yang sekilas gua denger (gua jarang banget baca koran-Cuma nguping orang-orang ngobrol di sekeliling gua), kenaikan BBM itu memang sudah tidak terhindarkan lagi. Nilai belanja pemerintah berupa subsidi untuk BBM udah gila-gilaan karena harga minyak dunia terus naik sementara harga untuk dijual di dalam negeri segitu-segitu aja. Gua dengar juga, katanya, untuk penggunaan BBM di dalam negeri kita harus impor, maksudnya kita adalah konsumen ‘minyak matang’ alias BBM walaupun sekaligus juga sebagai produsen minyak mentah atau crude oil. Ya kira-kira artinya percuma aja jadi produsen minyak kalo minyaknya belum bisa diapa-apain gitu kali ya? Nah, harga minyak impor itu yang naik terus. Subsidi dari pemerintah buat nutupin selisih yang semakin besar antara harga minyak (impor) yang sesungguhnya dengan harga minyak dalam negeri.
Tapi ada lagi versi yang gua dengar, penyebab harga BBM tak terhindarkan naik itu adalah karena BBM yang dikonsumsi di dalam negeri lebih besar daripada BBM yang bisa diproduksi di dalam negeri (alias lebih besar pasak dari tiang, lebih besar pengeluaran dari pendapatan). Tapi gua kurang begitu yakin dengan pendapat ini. Soalnya, (katanya lagi), kita kan belum bisa mengolah minyak mentah jadi ‘minyak matang’ (BBM). Tapi kok bisa minyak produksi kita dipake oleh kita juga? Berarti kita udah bisa mengolah minyak mentah jadi bahan bakar ya?
Wah ngga tau deh mana yang betul. Tapi intinya, harga minyak dunia naik (ngga tau yang mentah, ngga tau yang matang) dan harga BBM di dalam negeri tetap. Jadi ngga bisa begitu. Harga BBM di dalam negeri harus ikut naik juga. Sebagaimana harga sembako ikut naik, harga nasi campur ikut naik, harga (ongkos) angkot dan bus ikut naik, harga meja belajar ikut naik, dll. Dengan naiknya harga BBM, maka biaya operasional pun otomatis ikut naik. Karena angkot kan pake BBM, bus pake BBM, mesin penggilingan padi pake BBM, mesin pabrik panci (eh bisa ngga ya kita bikin panci? Kan katanya bikin peniti, jarum, dan resleting aja belum bisa?) pake BBM, mesin-mesin pabrik tekstil pake BBM, mobil pick up pake BBM, truk apalagi. Makanya ongkos angkut sayur mayur jadi naik sehingga harga sayur juga naik. Ongkos becak yang ngga pakai BBM juga ikut naik karena kan tukang becaknya harus beli beras yang harganya juga naik karena harga (ongkos) angkut beras naik. Upah buruh juga harus naik karena harga transportasi naik. Pokoke naik kabeh. BBM betul-betul contoh kedahsyatan efek domino dalam perekonomian. Dengan istilah keren ‘chain reaction’. Segala sendi kehidupan masyarakat jaman sekarang benar-benar udah lekat banget dengan BBM. BBM is the way of life.
Tapi (lagi-lagi) gua dengar di salah satu wawancara radio, emang betul kenaikan BBM pasti akan membawa kenaikan harga barang lain tapi tidak dipatok secara linear begitu saja. Jadi kalo BBM naik 30%, ya ongkos angkot ngga harus naiknya sama 30%. Karena BBM dalam biaya operasional angkutan kota itu tidak sampai 50% dari total keseluruhan biaya (apa tuh orang yang ngomong di radio bener ya?). Justru yang nyumbang terbesar itu adalah komponen biaya penggantian suku cadang dan pemeliharaan lainnya. Jadi kalo kontribusi BBM itu, sebut, sekitar 40% dari total keseluruhan biaya, maka ongkos angkutan kota sebenarnya cukup naik sebesar 30% x 40% = 12% saja dan bukan naik 30%. Kalo kita mau ke Terminal leuwi panjang dari Jl. Sekejati pake angkot biasanya bayar 3.000 perak, karena naik 12%, jadi harus bayar 3.360 atau dibuletin jadi 3.400 gitu kali? Atau kalo supir angkot 05 nya orang batak yang serem, ya bolehlah dibuletin jadi 3.500. Begitu pula dengan penggunaan BBM pada mesin-mesin pabrik dan alat-alat pengolahan padi. Ada itung-itungannya sendiri sehingga kenaikan harga itu tidak lantas harus naik juga 30%. Tapi dengan berat hati harus gua katakan bahwa, gua dengerin wawancara radio tersebut sambil nyetir mobil dan sambil smoking-smoking, dan sambil ngobrol-ngorol sama bini gua tentang bagaimana seharusnya masang bunga plastik di rumah. Jadi akurasi penyampaian informasi dari gua sehubungan dengan wawancara di radio itu jadi sangat kurang akurat.
Ada berbagai pendapat juga yang katanya pemerintah sebenarnya masih bisa menunda kenaikan BBM. Yaitu dengan cara terutama (yang gua inget) memotong anggaran belanja instansi-instansi pemerintah, pengurangan dana untuk bank-bank yang sedang restrukturisasi (?), dan beberapa kemingkinan opsi lain. Gua rasanya setuju banget sama opsi pertama yaitu pemotongan anggaran belanja instansi-instansi pemerintah. Kenapa gua setuju sama yang itu? Karena yang lain gua ngga tau atau ngga ingat. Jadi ya setujunya sama yang itu aja. Dan (walaupun ngga begitu tau juga) rasanya anggaran untuk instansi-instansi pemerintah menurut gua agak terlalu jor-joran. Gua pernah kebetulan ngurusin sesuatu di sebuah instansi pemerintah. Dan di salah satu meja pengurusan administrasi gua ngga sengaja ngeliat (maksudnya ngintip) salah satu layar. Petugas disitu lagi ngebuka “dxdiag”, so terlihatlah beberapa info penting tentang spec komputer tersebut. Jelas terbaca sama gua, prosesornya pentium core 2 duo di atas 3 Ghz dan RAMnya 2 Gb plus komputernya juga branded (salah satu produsen komputer ternama gitulah) dan bukan rakit-rakitan. Gua ngga tau pake kartu grafis ngga, soale kan itu ngga keliatan di tab utama dxdiag. Setau gua spec setinggi itu cocok banget buat main game 3D atau ngerjain aplikasi-aplikasi grafis atau video. Minimal tuh komputer bisa seharga 8 juta ke atas. Saking penasarannya, sampe gua nanya ke petugas yang lagi ngetik-ngetik disitu. “Mas, komputernya bagus banget ya? Bisa dipake buat program-program berat dong?” Dia jawab, “ah ngga juga kok pak. Paling buat ngetik-ngetik pake microsoft word atau excel aja.” Busseet. Komputer dengan spec tinggi cuma buat ngetik doang (kebetulan itu emang meja bagian administrasi, bisa buat apa lagi juga?). “Trus buat main game juga asyik tuh.” Gua mancing. Dijawab “Wah main game sih ngga boleh pak, ya dari kantor pusatnya udah dikasih yang begini semua, ya dipake aja.” Tuh kan pemerintah suka boros. Mestinya ada analisis kebutuhan lah. Jangan semua user di semua bagian dikasih komputer dengan spec yang tinggi semua. Kan hematnya bisa 2-3 juta per komputer. Kalo sekantor ada 5 komputer, hematnya bisa sampe 15 juta per kantor. Kalo instansi pemerintahnya ada puluhan yang dapat komputer dengan spec begitu (biasanya satu departemen atau satu direktorat katanya barang-barangnya suka sama), kan penghematan totalnya bisa lumayan. And pernah juga temen gua yang jadi PNS cerita katanya anggaran untuk pemeliharaan gedung gede banget. Bisa nyampe ratusan juta. Padahal gedung kantornya sendiri masih baru. Kata dia, paling dana itu habisnya yang rutin tiap bulan cuma untuk biaya cleaning servicenya aja. Dan itu pun ngga nyampe 35% dari total anggarannya. Jadi tiap menjelang tahun baru, temen gua itu suka bingung mau buat apa lagi tuh duit jatah kantornya masih ngejogrok di kas negara. Kata temen gua itu pula, di lingkungan pemerintah ada suatu pendapat (?) bahwa dana suatu kantor tuh sebaiknya harus habis alias bisa diserap mendekati 100%. Kalo ngga, tahun depannya jatah anggaran untuk kantor itu akan dikurangin. Jadilah pada berlomba-lomba ngabisin duit. Malah doi bawa informasi juga bahwa sampai menjelang pertengahan tahun ini, dana yang terserap dari anggaran jatah kantor-kantor pemerintah masih jauh dari 50%! Berarti penjatahan dana tiap kantornya apa ngga kebanyakan ya? Kalo instansi pemerintah sampe bingung ngabisin duit gitu, ya mending kebijakan presiden yang motong anggaran instansi-instansi pemerintah ya boleh juga tuh dilakukan lagi (kebijakan tidak populer juga kali di lingkungan PNS?). Tapi kalo hal kaya gini dihubungkan dengan usaha pemerintah menggeliatkan sektor riil, gua ngga tau juga tuh (emang lebih banyak ngga taunya). Soalnya dana masyarakat yang kebanyakan terkumpul dari pajak itu akan bisa kembali lagi kepada masyarakat lewat proyek-proyek pemerintah. Kalo pengeluaran pemerintah dikurangi, kan jatah rebutan kerjaan para kontraktor juga berkurang ya? Ah ngga tau deh. Pokoke BBM is the way of life. BBM is the way of my life. Hidup subsid… eh.. BBM.

No comments: